Jika kita melihat hasil riset mengenai entrepreneurship movement di Indonesia sekarang dan kemana harusnya diarahkan. World Economic Forum, membagi negara-negara di dunia menjadi 3 kategori:
- Factor Driven Economy (GDP Per kapita dibawah USD 2.000).
- Efficiency Driven Economy (GDP Per kapita diantara USD 3.000 hingga 9.000)
- Innovation Driven Economy (GDP Per kapita diatas 17.000)
Kita ambil salah satu contoh universitas di Amerika yang dianggap berhasil dalam menghasilkan entrepreneur yaitu Stanford University. Misi Stanford adalah tetap menjadi institusi pendidikan dan bukan tempat untuk melahirkan perusahaan atau bisnis baru. Berbeda dengan Harvard yang mengadakan kompetisi business plan dll. Lulusan Stanford yang langsung mendirikan perusahaan ada sekitar 10% dimana Harvard cuma 5%. Stanford bisa melahirkan entrepreneur secara alami dikarenakan lingkungan universitas yang berada di tengah-tengah Silicon Valley.
Dari Innovation Driven Economy kita bisa ambil kesimpulan bahwa Shaping Attitudes atau pembentukan sikap memiliki peran sangat kritikal dalam pembentukan entrepreneur yang akan terjun dalam dunia bisnis karena pilihan bukan keterpaksaan. Kita perlu melahirkan entrepreneur yang memilih secara sadar untuk menjadi pengusaha dan bukan karena keterpaksaan.
Di Negara kita sendiri, saat ini jumlah Usaha Kecil Mikro (UKM)-nya mencapai sekitar 52 juta unit usaha dan jumlah ini diperkirakan akan terus bertumbuh. Namun ironisnya, ini bukan sesuatu hal yang patut kita banggakan, karena sebagian besar dari pegusaha UKM kita masuk dalam golongan necessity entrepreneur yang bekerja bukan karena keinginan, pilihan, atau kesempatan namun karena keterpaksaan akibat kurangnya lapangan pekerjaan di Indonesia. Mereka kerap terbelenggu oleh beberapa kendala mulai dari perizinan membuka usaha, infrastruktur, KUR yang tidak terealisasi, hingga menanggung beban pajak. Hal inilah yang memaksa mereka untuk menjadi entrepreneur yang hanya memenuhi kebutuhan diri sendiri, mereka berpikir dari pada mau naik kelas tapi harus melawati berbagai jalan yang rumit dan berbelit-belit mending begini saja mereka sudah tercukupi. Nah, disinilah peran kita dibutuhkan, bagaimana mengubah agar pelaku UKM yang seperti ini berkurang dan usaha mikro bisa naik kelas menjadi kelas menengah sehingga bisa berkontribusi kepada naiknya GDP Negara kita.
Pengangguran dan kemiskinan itu terkait dengan kualitas SDM. Kita tidak bisa tinggal diam hanya menunggu pemerintah bertindak. Masyarakat pun juga harus berperan aktif, bayangkan saja jika entrepreneur-entrepreneur terpaksa menceburkan diri, namun tidak bisa bisa berenang karena tidak pernah dibekali pendidikan mindset entrepreneurship. Memang harus diakui, tidak semua orang terlahir seperti Bill Gates, Steve Jobs, atau Mark Zuckerberg yang dropped out dan tidak menyelesaikan kuliahnya namun bisa mencapai kesuksesan yang luar biasa sebagai seorang entrepreneur. Jumlah entrepreneur seperti mereka ini sangat sedikit sekali. Yang patut kita teladani dari mereka adalah mereka terpaksa tercebur tapi spontan bisa berenang, karena mereka total dalam pilihannya menjadi entrepreneurs, mereka fokus dan bersungguh-sungguh berjuang hingga bisa survive bahkan berkontribusi besar kepada Negaranya.
Masalah yang terjadi pada masyarakat kita saat ini adalah mental mereka yang ingin semuanya serba instant, inilah virus yang sedang menggerogoti mental masyarakat kita.. Apa-apa maunya serba cepat dan enak. Cepat kaya, cepat terkenal, cepat pintar, cepat sukses. Padahal untuk pintar kita harus banyak belajar, untuk panen, tanaman kita harus bertani dan merawat tanamannya dulu. Akibat budaya instant ini, akhirnya banyak terjadi korupsi atas proyek-proyek pemerintah untuk kekayaan pribadi. Coba bayangkan jika semua proyek berjalan bersih, saya optimis ekonomi kita bisa tumbuh lebih baik lagi.. Oleh karena itu, Kita harus menyadari pentingnya dan tingginya peran lembaga pendidikan universitas, training atau pelatihan sehingga dapat menciptakan platform dan lingkungan yang menghasilkan entrepreneurs simply by choice, by opportunity, not by accident or necessity. Kita memerlukan adanya transformasi pada sistem pendidikan kita yang lebih mendukung dan fokus terhadap pengembangan kewirausahaan, sistem pendidikan yang mengajarkan nilai-nilai dan esensi kewirausahaan,
Diakhir cerita, saya ingin menegaskan kembali, bahwa entrepreneurship itu bukan profesi, melainkan sebuah mindset (pola pikir). Yakni, mindset yang terdiri dari kerja keras, sikap hidup optimis, inovatif, kreatif, serta leadership.--- http://sandiaga-uno.com/enterpreneurship-in-indonesia-financial-club/
Salam
Sandiaga Uno
Tidak ada komentar:
Posting Komentar